FAKTOR DI BALIK KESUKSESAN INDIVIDU (Motivasi dan Psychology Capital)
I. I.
LATAR
BELAKANG
Pernahkah kalian merasa kagum atau bahkan iri dengan kesuksesan seseorang? Atau
bahkan kesusesan tokoh dunia? Namun taukah kalian apa saja yang harus mereka
hadapi untuk sampai pada kesuksesan itu dan faktor apa saja dalam kesuksesan
tersebut. Motivasi dan Psychology Capital adalah salah satunya yang akan dibahas
kali ini.
Motivasi dalam bahasa inggris motivation yang berasal dari Latin movere
yang berarti menggerakan (steers & poter dalam wijono, 2010). Definisi motivasi yaitu, motivasi mengacu
pada kekuatan individu dalam memperhitungkan tujuan, tingkatan, dan ketekunan
dari usaha yang curahkan seseorang di tempat kerjanya. Tujuan mengacu pada
pilihan individu ketika disajikan dengan sejumlah alternatif. Tingkat mengacu
pada jumlah usaha yang dilakukan seseorang . Ketekunan mengacu pada lamanya
waktu seseorang bertahan dengan yang diberikan tindakan. Lawler (1973) juga mengatakan motivasi
merupakan perilaku yang dikontrol oleh pusat kontrol manusia (otak) yang
mengarahkan individu untuk mencapai suatu tujuan
Psychology capital dalah individu positif yang kondisi perkembangan psikologisnya
yaitu dicirikan memilki keyakinan (self-efficacy) untuk menetukan dan
melakukan upaya yang diperlukan untuk keberhasilan
tugas-tugas yang menantang, membuat referensi positif (optimism) tentang
kesuksesan sekarang dan di masa depan, tekun dalam mencapai tujuan (hope) agar
berhasil, dan ketika dalam masalah dan kesulitan dapat bertahan dalam mencapai
kesuksesan (resilience). (Luthans,
Youssef, & Avolio, 2007, hlm. 3). Dalam penjelasan di atas terdapat empat
komponen dari psycap yaitu self-efficacy,
optimism, hope dan resilience
yang mendasari dalam pembentuk efek positif pada diri individu. Luthans,
Avolio, dkk. (2007) mengatakan bahwa hal yang mendasari hubungkan empat komponen
menjadi lebih tinggi dengan mengkombinasikan hal berikut
(a)
Persepsi
positif, atribusi, interpretasi, dan penilaian terhadap pengalaman seseorang;
(b)
Kemampuan
secara fisik dan psikologis
(c) Hasil sesungguhnya dan probabilitas yang dirasakan dalam suksesan yang sebenarnya
adalah dengan pilihan sendiri, usaha, dan ketekunan.
Jika diliat dari definisi keduanya, PsyCap merupakan bagian dari
motivasi. Komponen-komponen dalam PsyCap
merupakan hal-hal yang terdapat dalam motivasi. PsyCap merupakan bagian dari
motivasi dimana PsyCap merupakan pendorong dalam menjadi individu yang positif
agar dapat mencapai kesuksesan. Motivasi tentu banyak jenisnya, tetapi motivasi
dalam bentuk PsyCap ini merujuk pada bagaimana seseorang menempuh perjalanan
suksesnya dengan menjadi individu yang positif yang memiliki self-efficacy, optimism, hope dan resilience agar kesuksesannya dapat
tercapai.
II.
TEORI
MOTIVASI
·
Teori haerarki kebutuhan Malow
Teori kebutuhan Maslow dimana individu memilki lima tingkat kebutuhan
individu. Mulai dari fisiologis, keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan harga
diri dan aktualisasi diri. Konsep
kebutuhan "hierarki" mengasumsikan bahwa beberapa kebutuhan lebih
penting dari yang lain dan harus puas sebelum kebutuhan lain bisa berfungsi
sebagai motivator. Misalnya, kebutuhan fisiologis harus dipenuhi sebelum
kebutuhan keamanan diaktifkan; kebutuhan keamanan harus dipenuhi sebelum
kebutuhan sosial diaktifkan; dan seterusnya.
·
Teori ERG
Teori ERG Clayton Alderfer juga didasarkan pada kebutuhan, tetapi berbeda
dari Teori Maslow , teori ERG memendekan
teori Maslow dari lima kategori kebutuhan menjadi tiga: kebutuhan
eksistensi, keinginan untuk fisiologis dan kesejahteraan materi; kebutuhan
keterkaitan, keinginan untuk memuaskan antarpribadi hubungan; dan kebutuhan
pertumbuhan, keinginan untuk pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan dan pengembangan.
Kedua, teori ERG menekankan regresi frustrasi unik komponen. Kebutuhan level
bawah yang sudah dipenuhi dapat diaktifkan ketika kebutuhan tingkat yang lebih
tinggi tidak dapat dipenuhi. Jadi, jika seseorang terus frustrasi dalam
usahanya untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhan, kebutuhan keterkaitan dapat
kembali muncul sebagai motivator utama. Ketiga, tidak seperti teori Maslow,
teori ERG berpendapat demikian lebih dari satu kebutuhan dapat diaktifkan pada
saat yang bersamaan.
III.
METODELOGI
Dalam
pembahasan kali ini metode yang digunakan yaitu studi kasus. Kasus ini adalah
seseoarang yang sukses bahkan sampai mendunia. Kolonel Sanders pendiri
Kentucky Fried Chicken (KFC) . ia lahir pada tanggal 9 September 1890 di
Henryville, Indiana, Amerika Serikat. Pada usia 6 tahun ia sudah kehilangan
ayahnya dan harus mengurus keluarganya karenanya ibunya tidakmampu lagi. Ia
terbiasa memasak untuk keluarga menjadikannya pandai memasak di usia belia. Pada
usia 10 tahun ia sudah harus bekerja, setelah itu terus menerus berganti
perkerjaan, sampai akhirnya ia menjadi tenta dan dikirim ke kuba. Setelah
pensiun dan hidup mengandalkan tun jangan. Suatu hari tem annya suka dengan
ayam goreng buatannya, yang menjadikannnya inspirasi untuk menawarkan resepnya
ke restoran-restoran. Namun sayangnya ia ditolak bahkan sampai 1009 kali. Ia
berjuang selama 2 tahun menjelajahi Amerika dengan mobil tuanya. Tidur di
mobil, dan bangun di pagi hari dengan kondisi siap untuk menawarkan resepnya
pada restoran baru. Akhirnya, idenya diterima dengan sukses besar.
IV.
PEMBAHASAN
Dalam kasus ini
kita dapat melihat bagaimana Kolonel Sanders ini dalam PsyCap
H (hope) : harapan Kolonel Sanders muncul ketika temannya berkata
bahwa ayamnya enak, harapan untuk mendengarkan lebih banyak lagi orang yang
berkata demikian padanya dan menerima resepnya layaknya temanannya ini. Harapan
ini muncul menjadikan suatu motivasi untuknya, bergerak mencapai tujuannya
O (optimism) : setelah gagal 1009
kali iya tetap optimis bahwa resep yang ia tawar akan mampu disukai dan
diterima oleh orang lain, walaupun hanya temannya saja yang mengakui cita rasa resepnya dan hampir
kebanyak orang malah menolaknya tidak membuat ia mundur.
Itu merupakan bentuk keyakinan pada apa yang ia ingin capai.
R (resilience) : Kolonel
Sanders membuktikan bahwa ia dapat bertahan dikondisi atau masalah yang sulit
yang tengah ia hadapi, ia tetap bertahan bahkan
sampai 2 tahun lamanya dengan terus-menerus menerima penolak tanpa memilih untuk mundur.
E (self-efficacy) ; keyakinan pada dirinya yang mampu membuat resep dengan
rasa enak membuatnya tidak pantang menyerah. Ia yakin terhadap apa yang ia
ciptakan sehingga berbagai penolak tidak mampu membuatnya mundur dan bahkan di
buktinya kemampuan tersebut dengan kesuksesan yang mendunia.
Berdasarkan pemaparan di atas dapat kita petik kesimpulan
bahwa kesuksesan akan terjadi bukan hanya faktor-faktor luar seperti
pendidikan, status ekonomi orang tua, negara, atau lain. Namun faktor internal
pun mengambil andil yang besar dalam sebuah kesuksesan. Kesuksesan ada pada
diri kita sendiri, seberapa ingin dan yakin pada kesuksesan kelak, seberapa
mampu rintangan yang akan kita hadapi, itu semua bergantung pada individu itu
sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Norman,
S. C., Avey, J. B., Nimnicht, J. L., Pigeon, N. G. (2010). The interactive
effects of psychological capital and organization identity on employee
organitional citizenship and divance behaviors. Jurnal of leadership & organization studies, 7(4), 380-391
Luthans, F., Avolio, B. J., Avey, J. B.,
& Norman, S. M. (2007). Positive
psychological capital: Measurement and relationship with performance and satisfaction. Personnel
Psychology,
Schermerhorn, Jr. J. R., Hunt, J. G., Osborn, R. N.,
& Uhl-Bien, M. (2010). Organizational Behavior (11ͭ ͪ ed). New York : Jhon
Wiley & Sons, Inc.
Wijono, S. (2010).
Psikologi industri dan organisasi. Jakarta: Kencana.
Komentar
Posting Komentar